Sekolah Alam Nara Mulia Kudus - Kehilangan memang bukan hal yang mudah, apalagi jika sosok yang pergi adalah ia yang sejak awal mula berdiri, setia menemani setiap derap langkah perjuangan. Anak-anak terkejut, tangis bersahutan. Mereka berlari menuju Bu Laili yang baru saja mengumumkan 'purna tugasnya'. Rasa kehilangan itu nyata. Ia hadir begitu pekat di sudut-sudut Sekolah Alam Nara Mulia, Kudus, di hari pelepasan Angkatan ke-II Sekolah Alam Nara Mulia.
Namun, di antara kesedihan yang membuncah, seluruh yang hadir di Aula AFTER tersadar akan satu hal, yakni:
kehilangan karena sebuah alasan cinta yang lebih megah, rasanya akan membuat segalanya menjadi lebih mudah untuk diikhlaskan.
Sosok itu adalah Ibu Lailul Hasanah, S.E.I., atau yang selama ini akrab dan lekat di hati kami dengan sapaan hangat, Ibu Leli. Beliau bukan sekadar seorang pendidik yang mentransfer ilmu di dalam kelas. Ibu Leli adalah bagian dari fondasi awal, jiwa yang turut berjuang bersama, melakukan 'babat alas' jatuh bangun mengembangkan Sekolah Alam Nara Mulia Kudus sejak tanah ini masih berupa mimpi yang sunyi. Bersamanya, setiap jengkal tanah sekolah ini dirawat, setiap tawa anak-anak dirayakan, dan setiap air mata kesulitan diredam dengan pelukan seorang ibu.
Namun, seperti sebuah perjalanan yang indah, waktu jugalah yang akhirnya membawa kami pada sebuah persimpangan jalan yang tak terelakkan. Sebuah titik di mana takdir meminta jalurnya bercabang. Ibu Leli harus mengambil keputusan besar untuk undur diri dari rutinitas sekolah. Langkah kakinya kini harus berbalik arah, memilih untuk kembali ke pelukan rumah yang utuh, guna berkhidmat sepenuhnya pada keluarga tercinta.
Tugasnya sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya sendiri kini memanggil dengan begitu agung.
Melihat ketulusan niat itu, tidak ada kata yang lebih pantas kami ucapkan selain rasa ikhlas yang paling dalam, berbaur dengan rasa bangga yang membubung tinggi. Maka, hari ini, dengan dada yang bergemuruh namun sarat akan doa-doa baik, kami melepasmu, Bu Leli. Kami melepas seorang pejuang, seorang guru, dan seorang ibu yang telah mewarnai kanvas Sekolah Alam Nara Mulia dengan warna-warna kasih sayang yang tak akan pernah pudar oleh waktu.
Terima kasih yang tak terhingga, Bu Leli. Atas setiap peluh yang menetes, atas kesabaran yang tak bertepi, dan atas seluruh cinta yang telah Anda semaikan di hati anak-anak didik maupun sesama rekan guru. Percayalah, pengabdian suci Ibu selama ini tidak akan pernah sia-sia. Jejak-jejak kebaikan yang telah Anda tanam di Sekolah Alam Nara Mulia akan terus bertumbuh, berakar kuat, dan berbuah menjadi pahala jariyah yang mengalir tanpa putus.
Selamat kembali ke rumah pertama Anda, tempat di mana cinta sejati keluarga kini telah menanti dengan tangan terbuka. Namun ingatlah selalu, Bu Leli, di sudut kota Kudus ini, di antara riuhnya pohon-pohon dan tawa anak-anak alam, ada sebuah tempat yang akan selalu merindukanmu.
Bila kelak rasa rindu itu datang menyapa, melangkahlah kembali pulang, bertandanglah ke rumah keduamu: Sekolah Alam Nara Mulia. Pintu kami akan selalu terbuka lebar untuk menyambut kepulangan ibunda tercinta.
Salam hangat dari kami yang selalu mendoakanmu,
Jajaran civitas akademika Sekolah Alam Nara Mulia





0 Comments